Rabu, 19 September 2012

Tujuan Hidup


HARI ini saya menerima tiga berita kematian sekaligus.Duka pertama saya terima saat pagi masih cerah menyapa.Ibunda teman saya telah berpulang. Usia dan sakit, itulah alasan yang utamanya selain takdir. Kabar duka kedua hadir tepat tengah hari saat matahari tepat di atas kepala.Datang dari ibunda salah seorang murid. Ia menghembuskan nafas terakhirnya karena penyakit yang sudah menggerogotinya bertahun-tahun lamanya. Dan tepat menjelang malam, menyusul kabar dari tiga teman saya sekaligus. Kecelakaan parah mengantarkan mereka mendahului kami, teman-temannya.
SAYANGNYA, duka ini hanya bisa saya ucapkan lirih tanpa bisa menghadiri pemakaman mereka. Kabar ini cukup untuk membuat badan ini merinding. Memberikan pemahaman berharga bahwa ternyata hidup di dunia ini memang untuk sementara. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk takut menghadapinya. Tapi entah mengapa, badan ini tetap merinding. Mungkin, karena saya belum cukup bekal.
Seorang teman pernah bertanya pada salah seorang murid saya pada sebuah sesi pertemuan. Saat itu murid-murid saya ingin berdoa bersama demi kelulusan pada ujian masuk salah satu perguruan tinggi terkemuka di Yogyakarta. Tentu tujuannya agar kesiapan mental dan jiwa tetap terjaga sehingga tenang saat mengerjakan tes esok.
Pertanyaan teman saya cukup sederhana, "Nak, tujuan kamu ikut acara ini untuk apa?"
Spontan murid saya menjawab, "Agar bisa lulus tes".
"Setelah lulus tes, apa yang ingin kamu lakukan"
"Mm ... belajar agar bisa mendapatkan ilmu"
"Oke. Kalau sampai tahap itu kamu berhasil, lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? "
Nah, sampai pertanyaan ini, murid saya mulai terbata-bata menjawabnya. Dan akhirnya dia menemukan kata-kata bagus untuk menjawab pertanyaan itu.
"Mengamalkan ilmu agar bisa bermanfaat bagi buat orang lain"
"Baik. Setelah itu apa selanjutnya? "
"....????"
Meski berusaha menjawab, tapi akhirnya murid saya hanya bisa tersenyum kecut. Tidak ada kata-kata lagi keluar dari mulutnya. Dan, begitu juga saya. Meski bukan pihak yang ditanya, tapi saya berusaha terlibat dalam dialog itu.
Melihat gelagat itu, teman saya langsung mengakhiri pertanyaannya itu.
"Mungkin saya bisa membantu. Sepertinya satu-satunya jawaban akhir kita atas segala tujuan dari semua yang dilakukan adalah untuk ibadah ", begitu kata teman saya untuk mengakhiri sesi pertemuan itu.
Terus terang, jawaban yang sama sekali tidak terpikirkan otak saat itu sangat saya setujui. Mungkin memang sudah saatnya kita perbaiki niat. Benar apa kata teman saya saat itu, bahwa satu-satunya alasan terindah tatkala kita melakukan segala sesuatu adalah untuk ibadah. Karena sebenarnya alasan keberadaan makhluk di dunia ini sebenarnya dalam rangka untuk beribadah terhadap Tuhan. Lain tidak.
Sayangnya kita sering lupa. Sehingga pemutusan yang sementara ini sering kita gunakan bukan untuk mencari bekal demi perjalanan selanjutnya yang lebih panjang. Kita terlena oleh suasana. Tatkala kita diberi amanah untuk mendidik anak-anak kita, yang kita cari justru harta dunia. Meski lading pahala sudah di depan mata, kita mengabaikannya. Justru kita menodainya dengan mengabaikan anak-anak kita meski sebenarnya menjadi tanggung jawab kita.
Saat kita meresapi tujuan hidup adalah untuk ibadah, yakinlah hidup akan lebih tenang. Keluhan mungkin akan bisa terhindar. Kita tidak akan terburu-buru keluar ruang kelas sebelum bel berdentang.Atau mungkin kita tidak lantas menjadi penjilat demi citra kerja baik, padahal sebenarnya tidak melakukan apa apa. Bisa pula murid kita akan menjadi anak cerdas karena kita mendampingi mereka dengan tulus ikhlas.
Dan, hati-hati. Mungkin kita tidak bisa lagi menunda-nundanya. Karena bisa jadi besok adalah waktu terakhir kita untuk memperbaiki niat. Atau mungkin saja sudah tidak ada lagi esok. Saat kita menjadi tokoh utama cerita duka kematian untuk teman dan saudara kita.
sumber.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar