Selasa, 11 September 2012

Pengertian/definisi perkembangan menurut konsepsi aliran-aliran

Macam-macam Perkembangan Aliran :

a. Aliran Asosiasi
Para ahli yang mengikuti aliran asosiasi berpendapat, bahwa pada hakikatnya perkembangan itu adalah prosesasosiasi. Bagi para ahli yang mengikuti aliran ini yang primer adalah bagian-bagian, bagian-bagian ada terlebih dahulu, sedangkan keeluruhan ada lebih kemudian. Bagian-bagian terikat satu sama lain menjadi suatu keseluruhan oleh asosiasi.
Salah seoarang tokoh aliran asosiasi ini yang terkenal adalah John Locke. Locke berpendapat bahwa pada permulaannya jiwa anak itu adalah bersih semisal selembar kertas putih, yang kemudian sedikit demi sedikit terisi oleh pengalaman atau empiri. Dalam hal ini Locke membedakan adanyadua macam pengalaman, yaitu:a) Pengalaman luarYaitu pengalaman yang diperoleh dengan melalui panca indera, yang menimbulkan ”sensations”,b) Pengalaman dalamYaitu pengalaman mengenai keadaan dan kegiatan batin sendiri, yang menimbulkan ”reflektions”.Kedua macam kesan itu, yatu sensations dan reflektions merupakan pengertian yang sederhana (simple ideas), yang kemudian dalam asosiasi membentuk pengertian yang kompleks (kompleks ideas).Aliran asosiasi tersebut setidak-tidaknya dalam bentuknya seperti dikemukakan di atas itu, kini tinggal ada dalam sejarah; akan tetapi pengaruhnya dalam lapangan pendidikan pengajaran belum lama ditinggalkan orang. Metode mengajar, membaca dan menulis secara sintetis, metode menggambar secara sintetis, belum lama kita tinggalkan, atau malah mungkin masih ada yang mengikuti; metode-metode tersebut dasar psikologisnya adalah psikologi asosiasi.b. Aliran Gestalt
Pengikut-pengikut aliran psikologi gestalt mengemukakan konsepsi yang dikemukakan oleh para ahli yang mengikuti aliran asosiasi. Bagi para ahli yang mengikuti aliran gestalt, perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi yang primer adalah keseluruhan, sedangkan bagian-bagian adalah sekunder; yaitu bagian-bagian yang hanya mempunyai arti sebagai bagian daripada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain, keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya.
Gestalt adalah keseluruhan yang diorganisasikan secara tersusun. Keseluruhan ini adalah lebih dari jumlah bagian-bagian, ia memperlihatkan sifat-sifat yang terdapat pada elemen-elemen. Keseluruhan memberi arti pada bagian-bagian, yaitu tiap-tiap anggota (bagian) didukung oleh keseluruhan dan baru memperoleh artinya dalam keseluruhan tersebut.
a) Tanda-tanda hakiki dari Gestalt
1) Batasan
Gestal itu merupakan suatu keeluruhan tersendiri yang berbeda dari keseluruhan yang lain.
2) Geleding (bentuk)
Gestalt adalah berstruktur dalam, walupun sifat keseluruhannya itu masih menonjol, tetapi nampak pula sifat ragamnya.
b) Arti pengertian Gestalt menurut Koffka
Batasan mengenai Gestalt yang dikemukakan oleh Koffka, yaitu Gestalt adalah pengumpulan gejala-gejala sedemikian rupa bahwa tiap-tiap begian hanya mempunyai sifatnya sendiri karena bersama-sama dengan bagian-bagian yang lain. Jadi, Gestalt adalah keseluruhan yang penuh arti, dimana bagian yang satu mendukung bagian yang lain dan memperoleh artinya dari keseluruhannya. Gejala-gejala psikhis bukan merupakan suatu bentuk dimana bagian-bagiannya lepas satu sama lain tetapi suatu bentuk keseluruhan yang teratur. Yang primer dari gestalt adalah tak ada elemen. Pada keseluruhan itu terdapat sifat berdiri sendiri dan dalam totalitet, ini hanya ada bagian-bagian yang tidak berdiri sendiri, yang baru memperoleh arti karena bagian-bagian tersebut dimasukkan kedalam keseluruhan tersebut.
c) Timbulnya pengalaman Gestalt
Terhadap rangsangan yang kita terima dari dunia sekeliling, yang jumlahnya tak dapat dihitung, terhadap penyerapan-penyerapan tunggal yang jumlahnya sama dengan jumlah rangsangan, demikian menurut ilmu jiwa lama. Yang menarik perhatian adalah bahwa kita tidak menyerap suatu khas rangsangan rangsangan, tapi dengan mengamati langsung gestalt-gestalt. Dengan sendirinya ini diketahui oleh ilmu jiwa asosiasi dan berusaha untuk menerangkannya secara mekanistis belaka (disebabkan oleh hukum-hukum asosiasi yang membuta). Mereka beranggapan bahwa mula-mula ada suatu jumlah penyerapan-penyerapan dan dengan adanya hukum-hukum asosiasiyang bekerja membuta, lambat laun timbul hubungan yang psikhis. Ahli-ahli ilmu Gestalt tak mau menerima hopotesa mengenai jumlah asal daripada penyerapan ini. Mereka beranggap bahwa anak yang masih muda sekali secara langsung sudah mengamatyi dunia sekelilingnya dalam Gestalt (yang kurang atau sangat halus strukturnya). Tidak pada rangsangan ada penyerapan, tetapi suatu keseluruhan rangsangan dengan langsung diamati sebagai Gestalt.
d) Pemakaian ilmu jiwa Gestalt untuk menerangkan beberapa fungsi psikhis.
1) Pengamatan
Gestalt mula-mula dipelajari dalam lingkungan pengamatan. Disini ternyata bahwa isi pengamatan tidak mutlak ditentukan oleh rangsangan-rangsangan yang terpisah-pisah seperti yang dianggap orang terlebih dahulu, tetapi juga tergantung dari kekuatan dalam yang membentuk Gestalt.
2) Ingatan
Mengenai menghafal, ahli-ahli ilmu jiwaGestalt lebih mementingkan pembentukan suatu Gestalt, suatu kesatuan dalam, daripada jumlah ulangan yang banyak. Bila sekali sudah timbul satu Gestalt yang samar, maka Gestalt itu dipegang untuk waktu yang poendek atau panjang. Dimana tidak terbentuk Gestalt maka hanya sedikit yang diingat maka seumua ulangan tidak memmberi hasil. Bahan tanpa arti, pengetahuan yang tersebar lepas, sukar untuk dicamkan.
Maka untuk seorang guru berlaku tugas sebagai berikut: bahan harus sistekmatis, hubungan bagian yang sati dengan yang lain harus jelas. Dengan demikian, umpanya dalam pelajaran ilmu bum,i, hasil-hasil suatu daerah terutama akan diingat dengan baik bila dihubungkan dengan keadaan tanahnya.
3) Fantasi
Ilmu jiwa lama menerangkan fantasi sebagai dikombinasikannya bermacam-macam tanggapan fantasi. Ilmu jiwa Gestalt tidak percaya kepada pengumpulan elemen semata-mata, yaitu seorang komponis tidak hanya mengumpulkan nada-nada menjadi satu, sebelumnya ia sudah mempunyai tanggapan yang kabur dari keseluruhan (total). Ilmu jiwa Gestalt berpendapat bawa yang mula-mula ada adalah Gestalt yang kabur, suatu skema yang samar-samar dan bahwa skema ini lambat laun memperoleh isi.
4) Fikiran
Gestalt yang berstruktur ini juga memegang oeranan utama dalam berfikir. Bilamana suatu tugas berfikir harus dilaksanakan maka mula-mula terdapat suatu skema berfikir. Rencana skematis ini didiferensiasi dengan teliti, yaitu bagian bagian gestalyt dilihat penuh denagn perhat\ian dan dicari bagian2 yang tak ada. Maka pemecahan persoalan tercapailah.
c. Aliran Sosiologis
Aliran-aliran yang tergolong dalam hal ini, terdapat bahwa perkembangan itu merupakan proses sosialis. Mereka mengatakan bahwa anak-anak itu pada mulanya adalah asosial/prasosial, kemudian dalam perkembangannya lambat laun berubah menjadi sosial.
Tokohnya yang terkenal adalah James Mark Baldwin dengan karyanya “Development in the Child and the Race” di mana dia berpendapat bahwa ada kesejajaran antara ontogenese (jiwa perseoarangan) dan phylogenese (jiwa bangsa-bangsa), maksudnya bahwa ada persamaan-persamaan pernyataan-pernyataan psikis pada masyarakat primitif. Antara lain persamaan gejala psikis tersebut adalah:
Anak-anak:
a. Rasa takut, gelisah, kalau dilepas oleh pengaruh, misalnya dalam bak mandi, di kamar sendiri, dan lain-lain.
b. Bersifat instingtif.
c. Sugestibel (mudah kena pengaruh).
d. Suka pada warna-warna yang menyala.
Masyarakat Primitif:
a. Rasa takut kepada alam dan yang gaib.
b. Bersifat instingtif.
c. Masyarakat primitif pun mudah pula terpengaruh oleh keadaan sekitar.
d. Masyarakat primitif juga menyenangi warna-warna yang menyala.
Baldwin menyatakan, bahwa proses perkembangan itu berlangsung melalui adaptasi dan seleksi ini berlangsung atas dasar hukum “Law of Effect” (dari Thorndike).
Adaptasi adalah peniruan pada orang lain. Seleksi berarti mempertahankan tingkah laku-tingkah laku yang menguntungkan dan membuang tingkah laku-tingkah laku yang tidak menguntungkan. Dengan meniru “aku”-nya orang dewasa anak-anak lama kelamaam timbul kesadaran “aku” yang lain yang menjadi obyek peniruannya. Selanjutnya Baldwin berpendapat, bahwa setidak-tidaknya ada dua macam peniruan, yaitu:
(a) nondeliberate imitation, dan
(b) deliberate imitation.
Nondeliberate imitation misalnya terjadi kalau anak meniru gerakan-gerakan, sikap orang dewasa. Deliberate imitation terjadi misalnya kalau anak-anak bermain “peranan sosial”, yaitu misalnya menjadi ibu, penjual kacang, menjadi kondektur, menjadi penumpang kereta api, dan sebagainya;
Proses peniruan ini terjadi pada tiga taraf, yaitu:
a. Taraf yang pertama yang disebut taraf proyektif (projective stage);pada taraf ini anak mendapatkan kesan mengenai model (obyek)yang ditiru.
b. Taraf yang kedua disebutnya taraf subyektif(subjective stage); pada taraf ini anak cenderung untuk meniru gerakan-gerakan, atau sikap model atau obyeknya.
c. Taraf ketiga disebutnya taraf eyektif(ejective stage); pada taraf ini anak telah menguasai hal yang ditirunya itu; dia dapat mengerti bagaimana orang merasa, berangan-angan, berpikir, dan sebagainya.
Ahli-ahli yang mengikuti aliran ini branggapan bahwa, anak kecil mula-mula belum memiliki moral, yang kemudian lalu memiliki moral yang sifatnya heteronom, dan baru kemudian, yaitu setelah anak mencapai taraf kedewasaan, pemuda itu memiliki moral yang otonom. Proses perkembangan dari moral yang hetronom, yaitu moral yang pedoman-pedomannya terdapat di luar, yaitu pada orang tua dan orang-orang dewasa yang lain ke moral yang otonom, yaitu moral yang pedoman-pedomannya terdapat didiri anak sendiri, disebut proses internalisasi. Prose internalisasi ini berlangsung dengan identifikasi (yang mirip sekali dengan imitasi). Dan tujuan imitasi (identifikasi) ini tidak lain ialah penyesuaian tingkah laku dan perbuatan anak dengan norma-norma social, jadi proses sosialisasi.
d. Aliran Behaviourisme
Aliran Behaviourisme adalah salah satu dari aliran-aliran modern yang berpengaruh besar dalam ilmu jiwa, baik di Amerika, Rusia, Eropa dan Asia. Di dalam aliran Behaviourisme terdapat sebuah filsafat yang disebut dengan filsafat pragmatisme.
a)Pragmatisme
Mula-mula dalam abad ke 18 dan 19 aliran Idealisme mempengaruhi pikiran dan pekerjaan ilmiah orang-orang Amerika. Benyamin Franklin (1706-1790) salah seorang yang namanya tersohor hingga sekarang mengikuti filsafat Idealistis dari John Locke dan Malebranche. Kemudian, sesudah wafatnya Franklin aliran Idealisme yang berasal dari Jerman bertambah mempengaruhi filsafat Amerika. Nama yang terkenal dalam hubungan ini ialah pelopor demokrasi yang terkenal Ralph W. Emerson (1803-1882).
Penganjur Neo-Realisme yang termulia ialah Watson, yang mengerjakan dan mempraktekkan teori filsafat ini dalam sebuah sistem ilmu jiwa yang Behaviouristis. Pengaruh yang terbesar, baik dalam filsafat maupun ilmu-ilmu yang lain sebagai pendidikkan dan ilmu jiwa datang dari Pragmatisme. Peletak dasar dari sistem ini adalah William James (1842-1910). Dalam teori Pragmatisme maksudnya bukanlah mencari masalah dan dasar dari perbuatan dan kelakuan manusia, melainkan dikejarnya akibat yang baik daripada perbuatan-perbuatan itu, dikehendakinya supaya kita belajar hidup dan berlaku sedemikian rupa, hingga kelakuan kita membawa faedah bagi kita sendiri dan lingkungan tempat kita hidup.
Nama Pragmatisme yang pertama kali dikemukakan oleh Charles S. Peirce (1878) yang berasal dari kata Yunani “Pragma”, yang berarti perbuatan. Dalam teori Pragmatisme ini James menekankan antara berpikir dan berbuat, yang terkait dengan manusia, dan dihubungkan juga kepada “kebenaran”. Pragmatisme merupakan teori mengenai kebenaran dan merupakan metode berpikir.
b) Arti Behaviourisme
Behaviourisme mempunyai arti yang penting bagi ilmu jiwa hewan dan ilmu jiwa anak. Behaviourisme timbul dari ilmu jiwa hewan. Seekor binatang tidak dapat diselidiki dengan cara Tanya jawab yang tidak kritis dan selalu memakai manusia sebagai ukuran tigkah laku binatang. Arti Behaviourisme yang penting ialah, bahwa penyelidikkan hewan tersebut dilakukan dengan sangat obyektif.
Juga untuk bayi dan anak kecil tidak mungkin dipakai metode introspeksi. Jasa behaviourisme ialah bahwa behaviourisme telah mempelajari dengan teliti tingkah laku anak kecil seperti bersin, menelan, menangis, tertawa, menggerakkan tubuh, menangkap, berdiri, dan sebagainya.
Keberatan yang terbesar terhadap behaviorisme ialah karena menerangkan segala sesuatu dengan cara yang mekanistis. Menurut paham behaviourisme manusia merupakan mesin reaksi, dan pendidikan hanyalah soal mempengaruhi reflek dan perbuatan-perbuatan saja.
c) Prinsip-prinsip Behaviourisme
Prinsip behaviourisme antara lain:
1. Ilmu jiwa behaviouristis menganggap kelakuan sebagai obyek penyelidikan psikologis.
2. Behaviourist dalam ilmu jiwa tidak dapat menerima adanya sesuatu jiwa, yang mengemudikan kehidupan dan kelakuan kita.
3. Behaviourisme itu berpendapat bahwa kelahiran si anak belum mempunyai bakat, warisan rohani, kecakapan-kecakapan yang dibawakan, tetapi behaviourisme itu dipraktekkan dalam pendidikan.
d) Pelopor-pelopor behaviourisme di Amerika
1. William James sebagai Ahli Ilmu Jiwa
William James adalah seorang fungsionalis yang berpegang pada metode-metode dari ilmu hayat. James beranggapan bahwa hidup rasa ialah menolong gerak-gerik dari orang yang bersangkutan; arti daripada hidup kehendak yaitu supaya dengan kehendak itu orang dapat mengarahkan perbuatan dan kelakuannya sedemikian hingga seluruh pribadinya dapat disesuaikan dengan alam yang melingkupinya.
2. Edward Lee Thorndike
Thorndike beranggapan, bahwa kelakuan meliputi kesadaran. Dari sebab itu dipergunakannya metode instropeksi. Ia menekankan gejala-gejala motoris namun ia memberi perhatian kepada pengawakan kesenangan. Thorndike menjadikan seluruh proses belajar suatu rangkaian reflek yang tetap pada perangsang tertentu.
3. Watson
Watson beranggapan bahwa ilmu jiwa itu merupakan gejala-gejala yang nyata ada, yang benar-benar obyektif, dan empiris.
sumber.